Yuna & Tidus

Yuna & Tidus

Beberapa waktu lalu aku baru aja namatin game FF X. Game lama bin jadul sih, tapi baru sekarang kesampaian mainnya. Btw, X disini maksudnya X romawi Angka 10. Jadi jangan diartikan dengan hal yang porno2 yah.

Game yang bergenre RPG ini sebagaimana seri FF lain memberi nuansa yang berbeda bagi para gamernya. Level-up karakter dengan sphere grid system yang beda dari seri FF sebelumnya. Aga ribet, tapi lumayan lah. Sedangkan untuk battle systemnya masih tetap sama, sistem gantian jalan.

Untuk alur cerita, FF X menawarkan alur cerita yang lebih dewasa (bukan porno), lebih maknyuss dari seri FF sebelumnya. Aku hampir aja nangis pas liat ending movienya, apalagi OST Suteki da Ne diputer bebarengan ma credit titlenya. Haru biru… (lumayan, daripada nonton sinetron ga jelas yang ngebosenin nyehehe :D)

Short story :

Tidus seorang pemain blitzball yang terkenal (Olah raga yang sepopuler sepak bola). Seorang yang energic dan selalu optimis. Ia berasal dari Zanarkand, kota yang tidak pernah tidur, semacam kota metropolis lah.

Cerita bermula ketika Zanarkand diserang oleh Sin, makhluk mirip katak dengan ukuran raksasa. Untung aja Tidus diselamatkan oleh Auron, teman ayahnya hingga ia berada di 1000 tahun kemudian.

Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Rikku, ras Al Bhed yang dibenci oleh penduduk dunia karena menggunakan mesin (Disini mesin merupakan hal yang tabu). Wakka, seorang pemain blitzball dengan gaya slengekan. Lulu seorang penyihir seksi yang judes. dan Kimahri seorang dari ras Ronso (Bayangin aja manusia serigala). Bersama mereka menjadi guardian untuk melindungi Yuna, the summoner.

Untuk mengalahkan Sin, Yuna harus mengeluarkan Final Summoning. Namun ternyata hal tersebut sangat beresiko, Yuna bisa kehilangan nyawanya. Selain itu, untuk mengeluarkan Final Summoning, Yuna harus mengorbankan salah satu orang yang paling ia cintai (ia melirik ke Tidus). Setelah Final Summon dipanggil, Sin akan mati. Namun Sin yang baru akan lahir kembali 10 tahun kemudian. Persis seperti apa yang terjadi 10 tahun yang lalu terhadap lord Brasca (ayah Yuna) beserta guardiannya, Auron dan Jecht (ayah Tidus).

Belakangan ketahuan kalo Sin itu adalah Jecht. Tidus bingung… apakah itu berarti dia harus membunuh ayahnya sendiri?

Singkat cerita, Tidus dkk memutuskan untuk tidak menggunakan Final Summoning, sehingga Yuna ga perlu mati sia-sia. Dan mereka telah menemukan cara untuk membunuh Sin. Yaitu menyerangnya dari dalam.

Setelah pertarungan dan cerita (bla…bla…bla…) yang panjang, dengan Jecht, akhirnya mereka harus melawan Yu Yevon (Untuk javanese people, Yu Yevon ngga sama dengan yu Lastri lho hehe…). Yu Yevon, yang selama ini telah dianggap sebagai dewa oleh penduduk Spira (anggap aja spira=planet bumi) adalah biang kerok dibalik kemunculan Sin itu. Wujudnya seperti bola hitam bersembur merah darah.

Pertempuran panjang dengan Yu Yevon akhirnya berhasil dimenangkan Tidus dkk. Sin musnah, Spira aman, dan Yuna (orang yang disukai Tidus) ga perlu mati. Sebagai gantinya, Tidus yang harus mati (Well, secara teknis dia tidak mati karena konsep kematian di game ini aga kabur). Intinya Yuna tidak bisa ketemu dengan Tidus lagi selamanya. Saat itulah OST Suteki da Ne yang mendayu-dayu diputar…

The End

Jadi intinya, FF X ini Bad Ending. Tapi kisah cinta Tidus-Yuna ini akan diterusin di FF X-2… Strategi marketing-kah? Ah, peduli amat. Aku sudah tenggelam terlalu dalam di pelukan pesona FF. (Next target FF X-2!! Yay!!)